Organ Reproduksi Pria Pada Kemampuan Hubungan Seksual

Fungsi seksual pria terdiri dari 4 komponen, yaitu: dorongan seksual, bangkitan seksual, orgasme, dan ejakulasi. Bangkitan seksual terutama berupa ereksi penis. Setiap gangguan pada salah satu komponen itu dapat menimbulkan disfungsi seksual. Disfungsi seksual pria dikelompokkan menjadi: 1) Gangguan dorongan seksual yang meliputi dorongan seksual hipoaktif dan gangguan aversi seksual; 2) Disfungsi ereksi; 3) Gangguan ejakulasi yang meliputi ejakulasi dini (rapid ejaculation) dan ejakulasi terhambat (retarded ejaculation); 4) Gangguan orgasme.

Ejakulasi sebenarnya lebih banyak berfungsi reproduksi. Tetapi karena pada pria normal ejakulasi terjadi pada saat orgasme, maka gangguan ejakulasi seringkali juga mengganggu sensasi orgasme.

Pada makalah ini saya ingin menjelaskan organ reproduksi pria untuk kemampuan hubungan seksual.

ORGAN REPRODUKSI PRIA

Penis (dari bahasa Latin yang artinya “ekor”, akar katanya sama dengan phallus, yang memiliki arti sama) adalah alat kelamin jantan. Penis merupakan organ eksternal, karena berada di luar ruang tubuh.1,2

Organ Reproduksi Pria Pada Kemampuan Hubungan Seksual

Penis terdiri dari tiga struktur silindris yaitu sepasang corpus cavernosum dan sebuah corpus spongiosum. Corpora cavernosa ditutupi oleh jaringan fibroelastik tunica albuginea yang terdiri dari dua lapisan struktur yaitu lapisan dalam dan luar, lapisan dalam membungkus masing masing corpus dan lapisan luar membungkus kedua corpora, sedangkan di sebelah proksimal terpisah menjadi dua sebagai krura penis. Setiap krus penis dibungkus oleh otot ishio-kavernosus yang kemudian menempel pada rami osis ischii. 1,2

Korpus spongiosum membungkus uretra mulai dari diafragma urogenitalis dan di sebelah proksimal dilapisi oleh otot bulbo-kavernosus. Distal corpus spongiosum menjadi glans penis. Ketiga korpora itu dibungkus oleh fasia Buck dan lebih superfisial lagi oleh fascia Colles atau fasia Dartos yang merupakan kelanjutan dari fasia Scarpa.3

Di dalam setiap corpus yang terbungkus oleh tunika albuginea terdapat jaringan erektil yaitu berupa jaringan cavernosus (berongga) seperti spons. Tunica albuginea terdiri dari serabut elastis yang ireguler dan diantara kedua lapisan ini berjalan vena emissary. Di dalam tunica terdapat sinusoid sinusoid atau rongga lakuna yang dipisahkan oleh trabeculae otot polos dan dikelilingi oleh stroma yang terdiri dari serabut kolagen, elastin, pembuluh darah dan serabut saraf. Struktur corpus spongiosum dan glans sama dengan corpus cavernosum tetapi sinusoid lebih besar dan tunicanya lebih tipis. Sinusoid ini dapat menampung darah yang cukup banyak sehingga menyebabkan ketegangan batang penis. 1,2

Perkembangan Penis

Perkembangan penis secara umum dibagi dalam dua tahap, yaitu intra dan ekstra uterin. Sampai dengan minggu ke delapan di dalam kehidupan fetus, genitalia eksterna dari kedua jenis kelamin masih sama. Diferensiasi ke arah kelamin laki-laki tergantung pada pengaruh testosteron dan terutama dihidrotestosteron. Pada fetus laki-laki usia 8-12 minggu, testosteron disekresi oleh sel Leydig secara otonom, kemudian dipengaruhi oleh hCG plasenta, dan oleh rangsangan LH pituitari fetus pada trimester ke dua. Pada tahapan ini penis sudah lengkap terbentuk. Pituitari fetus mengambil alih fungsi kontrol dengan melepaskan LH dan FSH.2,7

Proses stimulasi berkelanjutan ini bertanggung jawab atas perkembangan penis. Mikropenis terjadi akibat gangguan atau defek hormonal pada trimester ke dua. Jika defek terjadi pada kehamilan di bawah 14 minggu, yang mungkin terjadi adalah pembentukan penis yang tidak sempurna dan terjadi ambigus. Sekresi testosteron juga berpengaruh pada perkembangan penis pada masa ekstra uterin. Pada masa neonatal kadar testosteron meningkat hingga usia 2 sampai 3 bulan, kemudian turun perlahan dan berlanjut hingga prapubertas. Pada masa ini terjadi penambahan panjang penis walaupun sedikit. 2,6

Jaras hipotalamus-hipofisis-gonad (HHG) kembali aktif pada saat awitan pubertas dan menyebabkan peningkatan kadar testosteron yang merangsang pertambahan panjang penis. Pada masa akhir pubertas pertumbuhan penis berhenti meskipun terjadi peningkatan testosteron, mekanismenya belum banyak diketahui, namun androgen masih terus berfungsi dan merangsang pertumbuhan prostat.2,7

Ukuran Penis Normal

Panjang penis flaksid hanya di bawah 4 cm saat lahir dan berubah sangat sedikit sampai pubertas, bila ditandai pertumbuhan. Schonfeld dan Beebe mencatat bahwa panjang penis yang diregangkan memperkirakan panjang penis saat ereksi, sedangkan lingkar penis adalah indikator buruk ereksi. Ada variasi dalam individu, akibat suhu tubuh yang panas dan olahraga, serta kegelisahan, semuanya berkontribusi terhadap variasi.2,6

Ada beberapa laporan pengukuran ukuran penis, yang dirangkum dalam Tabel 1. Studi ini mengukur berbagai aspek ukuran penis, termasuk panjang penis saat flaksid, panjang saat tegang, panjang saat ereksi, lingkar saat penis flaksid dan lingkar saat ereksi. Variabilitas beberapa nilai yang terekam pasti mencerminkan populasi yang berbeda yang dipelajari dan teknik pengukuran yang berbeda. Panjang penis yang membentang dalam penelitian ini biasanya 12-13 cm, dengan panjang saat ereksi 14-16 cm. Untuk lingkar penis,  ketebalan rata-rata 9-10 cm untuk penis flaksid dan 12-13 cm untuk penis yang ereksi.2,6

Untuk panjang penis diperlukan pengamatan umum. Pertama, nilai panjang penis menunjukkan beberapa konsistensi, dengan pengecualian yang jelas dari penelitian di Korea. Kedua, dengan nilai 9-10 cm, panjang penis saat flaksid biasanya 3-4 cm lebih pendek dari panjang penis tegang dan 5-6 cm lebih pendek dari panjang saat ereksi. Ketiga, seperti yang disarankan oleh Schonfeld dan Beebe, ada korelasi yang baik antara panjang penis yang tegang dan panjang saat ereksi. Secara umum diterima bahwa mikropenis adalah > 2,5 SD di bawah panjang rata-rata, dan dengan nilai yang ditunjukkan pada Tabel 1, disarankan agar setiap penis dengan panjang yang membentang < 7 cm adalah mikropenis sejati.

Ada beberapa area di mana penelitian lebih lanjut dibutuhkan. Untuk masalah usia (pada pria dewasa), sementara tampaknya ada kecenderungan yang menunjukkan bahwa pria dengan usia tua memiliki penis yang lebih kecil daripada mereka yang di mana rata-rata usia lebih muda, namun ketika pertanyaan ini dinilai secara formal tidak ada perbedaan. Satu studi membandingkan nilai panjang penis pria homoseksual dan heteroseksual. Studi tersebut didasarkan pada pengukuran yang dilakukan oleh Kinsey beberapa dekade sebelumnya, menunjukkan perbedaan yang signifikan secara statistik, dimana homoseksual memiliki panjang dan ketebalan lebih besar. Penulis menyarankan bahwa ini mungkin adanya paparan androgen yang lebih besar pada saat di rahim ibu, tapi sekali lagi ini adalah bidang yang memerlukan penelitian lebih lanjut.2,6

Operasi pelvis, dalam bentuk prostatektomi radikal, juga telah terbukti menampakkan adanya pemendekan penis. Penjelasan untuk ini mungkin merupakan konsekuensi langsung dari prostatektomi, namun hipotesis alternatifnya adalah bahwa, dengan timbulnya disfungsi ereksi (DE) yang disebabkan oleh prostatektomi, ada sedikit penurunan otot polos di dalam penis, disertai fibrosis dan fibrosa yang terkait penyusutan. Hal ini semakin memunculkan masalah apakah pria yang memiliki DE parah memiliki penis yang lebih kecil daripada pria normal.

Fungsi Penis

Fungsi penis secara biologi adalah sebagai alat pembuangan (organ ekskresi) sisa metabolisme berwujud cairan (urinasi) dan sebagai alat bantu reproduksi. Penis sejati dimiliki oleh mamalia dan menjadi penciri utama jenis kelamin jantan.3

Fungsi seks pria terdiri dari 3 fungsi yaitu :

  1. Ereksi, suatu proses akibat rangsangan neurologis, sehingga terjadi perubahan tekanan vaskular yang mengakibtakan pembesaran dan kekakuan penis.
  2. Ejakulasi, merupakan proses kompleks meliputi koordinasi daripada kontraksi otot dasar panggul dan kompresi uretra. Pusat kontrol terjadinya ejakulasi pada V.thorakal XII dan V.lumbal II serta serabut somatic sakralis. Karena adanya rangsang saraf akan menyebabkan kontraksi bladder neck dan relaksai spingter eksterna, sehingga semen dapat masuk ke uretra dengan adanya kontraksi m.bulbokavernosa dan m.ichiocavernosa mengakibatkan keluarnya semen
  3. Orgasmus, merupakan tujuan akhir dari fungsi seks pria normal yang berhubungan dengan alat genitalnya.

Ereksi Penis

Ereksi penis adalah suatu fenomena neurovaskular, yang tergantung dari integritas saraf, fungsi dari sistem vaskular, dan jaringan kavernosal yang sehat. Fungsi ereksi yang normal meliputi tiga proses sinergis dan simultan yaitu:

1) peningkatan arterial inflow yang dimediasi secara neurologis,

2) relaksasi dari otot polos kavernosal, dan

3) restriksi aliran keluar vena penis.

Telah lama diketahui bahwa NO memegang peranan yang penting dalam regulasi ereksi penis dalam keadaan fisiologis dan patologis. NO merupakan mediator yang sangat penting dalam proses relaksasi otot polos kavernosa yang menyebabkan ereksi. Relaksasi ini disebabkan oleh adanya guanetidin dan atropin pada lapisan otot dan diduga merupakan mediator saraf nonadrenergik-nonkolinergik. Relaksasi otot polos yang disebabkan oleh NO terjadi melalui peningkatan siklus GMP (guanosin monophosphate).5

Fisiologi Ereksi Penis

Ereksi penis adalah peristiwa neurovaskuler yang dimodulasi oleh faktor psikologis dan status hormonal. Ereksi penis terjadi ketika arteri di penis mengalami dilatasi dan jaringan erektil (korpura kavernosus dan korpura spongiosum) mengalami relaksasi (Wespes dkk., 2012). Secara hemodinamika, telah diketahui beberapa fase ereksi sebagai berikut :

  1. Fase flaksid (lemas)

Pada fase ini otot polos trabekular berkontraksi, aliran darah arteri berkurang, dan aliran darah vena meningkat. Tekanan dalam korpora kavernosus kurang lebih sama dengan tekanan vena (Wespes dkk., 2006).4

  1. Fase pengisian awal

Pada stimulasi seksual, impuls saraf menyebabkan pelepasan neurotransmitter dari saraf kavernosus terminal dan faktor relaksasi dari sel-sel endotel di penis, sehingga terjadi relaksasi otot polos arteri dan arteriol yang memasok jaringan ereksi dan peningkatan beberapa kali lipat aliran darah penis. Pada saat yang sama, relaksasi dari otot trabekular halus meningkatkan kepatuhan dari sinusoid, memfasilitasi pengisian cepat dan perluasan sistem sinusoidal (Wespes dkk., 2006).

  1. Fase tumesensi

Pada fase ini tekanan interkavernosus mulai meningkat dan ukuran penis terus bertambah. Aliran arteri perlahan-lahan mulai berkurang sampai terjadi fase ereksi penuh (Wespes dkk., 2006).

  1. Fase ereksi penuh

Selanjutnya terjadi kompresi pada pleksus venular subtunika antara trabekula dan tunika albugenia, sehingga menyebabkan oklusi hampir total dari aliran vena. Peristiwa ini menjebak darah di dalam korpus kavernosa dan menegakkan penis dari posisi tergantung, dengan tekanan intrakavernosus (fase ereksi penuh) (Wespes dkk., 2006).4

  1. Fase ereksi kaku

Selama hubungan seksual yang memicu reflex bulbokavernosus, otot-otot ischiokavernosus dengan kuat menekan dasar korpora bulbokavernosus yang dipenuhi darah dan penis menjadi lebih keras lagi, dengan tekanan intrakavernosus mencapai beberapa ratus millimeter air raksa. Selama fase ini, arus masuk dan keluar darah berhenti sementara (Wespes dkk., 2006).

  1. Fase detumesensi

Detumesensi (ukuran yang mengecil) dapat dihasilkan dari penghentian pelepasan neurotrasmiter, pemecahan messenger kedua oleh fosfodiesterase, atau pelepasan simpatik saat ejakulasi. Kontraksi otot polos trabekula membuka kembali saluran vena, darah yang terperangkap dikeluarkan, dan kembali ke keadaan flaksid (Wespes dkk., 2006).

Kelainan Penis

Kelainan penis berupa malformasi penis, aplasia, anomali preputium (fimosis, parafimosis), penyakit Peyroni, dan lain lain.3

  1. Fimosis

Fimosis adalah preputium penis yang tidak dapat diretraksi (ditarik) ke proksimal sampai ke korona glandis. Fimosis dialami oleh sebagian besar bayi baru lahir karena terdapat adhesi alamiah antara preputium dengan glans penis. Hingga usia 3-4 tahun penis tumbuh dan berkembang, dan debris yang dihasilkan oleh epitel preputium (smegna) berkumpul di dalam preputium dan perlahan-lahan memisahkan prepusium dari glans penis. Ereksi penis yang terjadi secara berkala membuat preputium terdilatasi perlahan-lahan sehingga prepusium menjadi retraktil dan dapat ditarik ke proksimal. Pada usia 3 tahun, 90% prepusium sudah dapat diretraksi.3

Gambaran klinis

Fimosis menyebabkan gangguan aliran urine berupa sulit kencing, pancaran urine mengecil, menggelembungnya ujung prepusium penis pada saat miksi, dan menimbulkan retensi urine. Higiene lokal yang kurang bersih menyebabkan terjadinya infeksi pada preputium (postitis), infeksi pada glans penis (balanitis) atau infeksi pada glans dan prepusium penis (balanopostitis).

Kadangkala pasien dibawa berobat oleh orangtuanya karena ada benjolan lunak di ujung penis yang tak lain adalah korpus smegma yaitu timbunan smegma di dalam sakus prepusium penis. Smegma terjadi dari sel-sel mukosa prepusium dan glans penis yang mengalami deskuamasi oleh bakteri yang ada didalamnya.3

Tindakan

Tidak dianjurkan melakukan dilatasi atau retraksi yang dipaksakan pada fimosis, karena menimbulkan luka dan terbentuk sikatriks pada ujung preputium sebagai fimosis sekunder. Fimosis yang disertai balanitis xerotika obliterans dapat dicoba diberikan salep deksametasone 0,1% yang dioleskan 3 atau 4 kali. Diharapkan setelah pemberian selama 6 minggu, preputium dapat diretraksi spontan.3

2.Parafimosis

Parafimosis adalah prepusium penis yang diretraksi sampai di sulkus koronarius tidak dapat dikembalikan pada keadaan semula dan timbul jeratan pada penis di belakang sulkus koronarius. Retraksi preputium ke proksimal biasanya dilakukan pada saat bersanggama/masturbasi atau sehabis pemasangan kateter. Jika prepusium tidak secepatnya dikembalikan ke tempat semula, menyebabkan gangguan aliran balik vena superfisial sedangkan aliran arteri tetap berjalan normal. Hal ini menyebabkan edema glans penis dan dirasakan nyeri. Jika dibiarkan bagian penis di sebelah distal jeratan akan makin membengkak yang akhirnya bisa mengalami nekrosis glans penis.3

Tindakan

Prepusium diusahakan untuk dikembalikan secara manual dengan tehnik memijat glans selama 3-5 menit diharapkan edema berkurang dan secara perlahan-lahan prepusium dikembalikan pad tempatnya. Jika usaha ini tidak berhasil, dilakukan dorsum insisi pada jeratan sehingga prepusium dapat dikembalikan pada tempatnya. Setelah edema dan proses inflamasi menghilang pasien dianjurkan untuk menjalani sirkumsisi.3

3.Penyakit Peyroni

Penyakit Peyroni adalah didapatkannya plaque atau indurasi pada tunika albuginea korpus kavernosum penis sehingga menyebabkan terjadinya angulasi (pembengkokan) batang penis pada saat ereksi.3

Gambaran klinis

Pasien mengeluh nyeri dan terjadi angulasi penis pada saat ereksi, sedangkan pada saat tidak ereksi nyeri menghilang. Akibat nyeri dan angulasi ini kemampuan penetrasi ke vagina menjadi berkurang. Pada pemeriksaan, teraba jaringan keras (fibrous) tunggal maupun berupa plak multipel pada tunika albuginea. Pada kasus yang berat dapat teraba kalsifikasi sehingga dapat terlihat pada pemeriksaan foto polos penis.

Etiologi

Penyebab yang pasti dari penyakit ini belum diketahui, tetapi secara histopatologi plak itu mirip dengan vaskulitis pada kontraktur Dupuytren yang disebabkan oleh reaksi imunologik. Hasil anamnesis pada pasien penyakit Peyroni menyebutkan bahwa sebelumnya mereka mengalami trauma pada penis yang berulang pada saat senggama.3

Terapi

Konservatif. Tanpa terapi 50% penyakit ini dapat mengalami remisi spontan setelah observasi selama 1 tahun. Dapat dicoba dengan pemberian Tamoxifen 20 mg dua kali sehari selama 6 minggu. Jika menunjukkan respon yang baik pengobatan diteruskan sampai 6 bulan. Untuk mencegah aktivitas fibroblas dapat dicegah dengan pemberian colchicine atau verapamil

Operasi. Indikasi operasi adalah deformitas penis yang menggangu senggama atau disfungsi ereksi akibat peyroni.

4.Priapismus

Priapismus adalah ereksi penis yang berkepanjangan tanpa diikuti dengan hasrat seksual dan sering disertai dengan rasa nyeri. Istilah priapismus berasal dari kata Yunani, priapus yaitu nama dewa kejantanan pada Yunani kuno. Priapismus merupakan salah satu kedaruratan di bidang urologi karena jika tidak ditangani dengan cepat dan tepat maka menimbukan kecacatan yang menetap berupa disfungsi ereksi. 3

Leave a Comment

Filed under Obstetri Ginekologi

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *